Minggu, 12 Februari 2012

Proposal Sastra


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pembelajaran bahasa Indonesia diaralikan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untiik berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia (Permen 22 tahun 2006).
Pembelajaran bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran pokok yang sering dijadikan tolok ukur dalam ujian nasional mencakup empat aspek keterampilan, yaitu: (a) keterampilan menyimak, (2) keterampilan berbicara, (3) keterampilan membaca, dan (4) keterampilan menulis. Keempat aspek keterampilan tersebut diajarkan secara terpadu dan berkaitan erat satu dengan yang lainnya disesuaikan dengan karakterisitk dan tingkatan siswa dalam belajar bahasa dan diarahkan untuk meningkatkan kemampuan siswa berkomumkasi secara lisan maupun tertulis.
Kemampuan berbahasa Indonesia secara lisan antara lain: mampu menyampaikan informasi aktual secara emosional, menyatakan sikap intelektual, serta menyatakan sikap moral. Kemampuan berbahasa Indonesia secara tertulis diarahkan agar siswa memiliki kegemaran menulis sehingga mampu meningkatkan pengetahuannya, menyampaikan informasi aktual, menyatakan sikap intelektual, menyatakan sikap moral dan mampu memanfaatkannya dalam kegiatan sehari-hari (Permen 22 tahun 2006).
Kemampuan berbahasa Indonesia secara tertulis juga merupakan salah satu aspek kemampuan berbahasa yang perlu diajarkan kepada siswa secara serius karena pembelajaran menulis berkaitan dengan proses belajar untuk berfikir secara kreatif. Siswa dalam pembelajaran menulis akan lebih dituntut untuk terus menambah pengetahuannya, baik yang berkaitan dengan tema, isi karangan, ataupun teknik penulisan yang baik (Akhadiah, 1997:24).
Kekuranganmampuan siswa dalam mengungkapkan gagasan atau idenya secara lisan ataupun tertulis, banyak disebabkan oleh kurangnya pengalaman untuk memahami lambang dan konsep, termasuk di dalamnya penguasaan kosa kata yang bam. Menumt Tarigan (1994:20), bahwa antara kemampuan kosa kata dengan kemampuan mental seseorang terdapat hubungan yang erat, sebagai hubungan kausal. Artinya, kuantitas dan kualitas kosa kata seseorang akan turut menentukan kualitas dan bobot kemampuan berbahasanya. Oleh karena itu, pertumbuhan kosa kata pun tidak dapat dibendung lagi. Bukan tidak mungkin pula, jika potensi ini dapat diolah dengan baik akan membawa pengaruh yang positif bagi pembelajaran bahasa Indonesia lebih maju dan menantang bagi siswa.
Diungkapkan oleh Tarigan (1994:15), baiiwa mempelajari sebuah kata baru dengan sendirinya membawa pengaruh luas dalam kehidupan berikut. Tentu pengertian ini dapat dimaknai jika semakin luas penguasaan kosa kata yang dimiliki seseorang akan semakin mahir pula seseorang untuk mengolah pikiran dan mengatisipasi lingkungannya dalam mempertahankan kehidupaimya.
Dalam kehidupan modem saat ini keterampilan menulis yang dimiliki seseorang sering dianggap sebagai salah satu ciri orang yang terpelajar, karena dianggap lebih mampu mengkomunikasikan ide dan pikirannya secara lebih runtut jelas dan mudah dipahami bagi orang lain (Morsey, dalam Tarigan 1994: 122). Beberapa anggapan sering mengidentikkan bahwa keilmuan seseorang seiring dengan jumlah buku yang ditulisnya. Oleh karena itu, keterampilan menulis dalam
pendidikan dewasa ini menjadi tuntutan wajib, misalnya pada saat SMA harus menulis tugas akhir, S1 harus menulis skripsi, S2 harus menulis tesis, dan ketika S3 harus menulis disertasi.
Dalam konteks yang lebih lebih sempit seorang siswa akan dianggap kurang sempurna dalam memiliki pengetahuan dan pengalaman jika tidak pernah diimbangi dengan kemampuan untuk menulis ataupun menuangkan pengetahuan dan pengalaman dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, kemampuan menulis dengan baik bagi seseorang juga akan membantu orang lain (pembaca) untuk mengerti dan memahami gagasan atau idenya.
Kemampuan berbahasa Indonesia secara tertulis senng dianggap lebih rumit dibandingkan dengan kemampuan berhasa lisan, karena di dalam menulis lebih menuntut proses belajar dan berpikir lebih kreatif. Hal ini sesuai dengan pendapat Tarigan (1994:3-4) bahwa menulis merupakan suatu kegiatan produktif dan ekspresif sehingga penulis haruslah terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa ataupun penguasaan kosa kata. Konteks penguasaan kosa kata menurut Parera (1993:119) sangat terkait dengan pengetahuan untuk menemukan makna kata-kata ataupun penguasaan kata-kata yang lain yang berhubungan dengan kata yang digunakan.
Pemahaman akan rumitnya menulis dalam kegiatan pembelajaran bahasa Indonesia di kelas sering dipahami berbanding terbalik. Ada kecenderungan materi pembelajaran menulis kurang mendapat waktu yang proporsional dibandingkan dengan materi yang lain, guru sering mengabaikan atau melewati materi yang berkaitan dengan menulis. Kenyataan yang ada guru bahasa Indonesia sering terjebak pada pembelajaran yang lebih memfokuskan pada penguasaan materi pengetahuan kebahasaan yang bersifat hafalan, tidak sebagai praktik yang menunjang pada peningkatan kompetensi siswa. Pemahaman ini memang terbentur pada target dan beban guru bahwa pembelajaran bahasa Indonesia sebagai salah satu mata pelajaran yang diujikan secara nasional, dan kenyataanya materi soalnya cenderung bersifat hafalan. Kondisi ini tentu saja berdampak pada kompetensi siswa seperti praktik menulis siswa yang cenderung rendah.
Berdasarkan kondisi riel siswa kelas VII hasil ulangan harian siswa kelas VII SMP 1 Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2010/2011 rata-rata nilai belajar pada aspek menulis prosa sangat kurang memuaskan (rata-rata kurang dari 65). Kecendemngan ini dimungkinkan sangat terkait dengan kemampuan siswa dalam mengembangkan ide atau gagasan berdasarkan kosa kata yang dimilikmya. Oleh karena itu maka penulis tertarik untuk mengkaji hubungan antara kemampuan penguasaan kosa kata dengan kemampuan menulis prosa pada siswa kelas VII SMP 1 Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2010/2011.

B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah adakah hubungan yang signifikan antara kemampuan penguasaan kosa kata dengan kemampuan menulis prosa pada siswa kelas VII SMP 1 Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2010/2011?

C.    Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan di atas, tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan ada tidaknya hubungan antara kemampuan penguasaan kosa kata dengan keraampuan menulis prosa pada siswa kelas VII SMP 1 Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2010/2011.

D.    Manfaat Penelitian
Manfaat   penelitian   yang   diharapkan   penulis   setelah   penelitian ini dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1.      Manfaat Teoretis.
Manfaat teoretis yang diharapkan yaitu untuk memberikan sumbangan terhadap penguasaan khasanah pembelajaran menulis bahasa Indonesia.
2.      Manfaat Praktis.
a)       Bagi guru dapat meningkatkan dan mengembangkan pembelajaran di kelas, khususnya pembelajaran menulis.
b)      Bagi siswa dapat meningkatkan prestasi belajamya, khususnya terkait kemampuan menulis dalam berbagai keperluan secara cepat dan tepat.

E.     Penegasan  Istilah
Penegasan istilah ini digunakan untuk menghindari pengintepretasian makna yang rancu. Istilah yang perlu ditegaskan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    Hubungan
Hubungan adalah keadaan berhubungan atau sangkutpaut (Moeliono.Et.al, 1995:358). Dalam konteks ini adalah hubungan antara variabel kemampuan penguasaan kosa kata dengan variable kemampuan menulis prosa siswa.

2.    Kemampuan Penguasaan Kosa Kata
Kemampuan adalah kesanggupan; kecakapan; kekuatan (Tim, 1995:623). Menulis adalah kegiatan-kegiatan menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-kalimat yang dirangkai secara utuh, lengkap dan jelas sehingga buah pikiran itu dapat dikomunikasikan kepada parapembaca dengan baik (Byrne dalam Abdi, 1993:13).
Pengusaan kosa kata adalah keseluruhan jumlah kata, ungkapan, idiom, peribahasa, dan istilah yang dikuasai oleh siswa (Soejono, 1983:134).
3.    Kemampuan Menuhs Prosa
Kemampuan adalah kesanggupan; kecakapan; kekuatan (Tim, 1995:623). Menulis adalah kegiatan kegiatan menuangkan buah pikiran ke dalam bahasa tulis melalui kalimat-kalimat yang dirangkai secara utuh, lengkap dan jelas sehingga buah pikiran itu dapat dikomunikasikan kepada para pembaca dengan baik (Byrne dalam Abdi, 1993:13).
Kemampuan menulis dalam penelitian ini adalah kecakapan atau keterampilan dalam bentuk tulisan prosa/ karangan bebas (Tim, 1995:229).


BAB II
LANDASAN TEORI

Penguasaan kosa kata dan kemampuan menulis merupakan dua komponen vang saling berkaitan terus dibelajarkan. Dengan penguasaan kosa kata yang baik seseorang akan memiliki wawasan dan pengetahuan kosa kata yang luas sehingga diharapkan dapat meningkatkan kemampuan menulisnya secara lebih baik.

A.    Kemampuan Penguasaan Kosa Kata
Kemampuan penguasaan kosa kata merupakan bagian penting dalam menyusun kalimat. Menurut Tarigan (1994:4-5) kegiatan menulis tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan menyusun kalimat. Seorang penulis haruslah mengetahui sejak semula maksud dan tujuan yang hendak dicapai sebelum menulis dengan menguasai keterampilan dalam memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata.
Kalimat adalah (a) kesatuan ujar yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan; (b) ling satuan bahasa yang secara realtif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual ataupun potensial terdiri atas klausa (Tim KBBI, 1995:434). Klausa dalam kalimat inti hendaknya mempunyai subjek dan predikat sehingga mempunyai makna yang jelas. Dengan demikian kalimat mempakan sebuah gagasan atau konsep yang dimiliki oleh seseorang yang memuat kesatuan pikiran yang bulat.
Kalimat yang baik harus disusun berdasarkan kaidah-kaidah yang berlaku. Kaidahyang berlaku tersebut meliputi: (a) unsur-unsur penting yang dimiliki setiap kalimat, (b) cara memilih kata dalam kalimat, dan (c) penerapan aturan-aturan tentang ejaan (Akliadiah, 1991:40).
Kelengkapan sebuah kalimat terkait dengan pola jabatan sebagai kalimat minimal yang memiliki subyek dan predikat, sangat menentukan kejelasan dalam sebuah kalimat, Kejelasan inilah yang akan membantu pemahaman orang yang membacanya, sehingga dapat dikategorikan sebagai kalimat yang baik dan benar (Akliadiah, 1991:42).
Menurut Alwi (2003:35) kalimat umumnya berwujud rentetan kata yang disusun sesuai dengan kaidah yang berlaku. Tiap kata dalam kalimat mempunyai tiga klasifikasi, yaitu berdasarkan (1) kategori sintaktis, (2) fungsi sintaktis, dan (3) peran semantisnya.
a.       Kategori Sintaktis
Dalam ilmu bahasa, kata dikelompokkan berdasarkan bentuk serta perilakunya. Kata yang mempunyai bentuk serta perilaku yang sama, atau mirip, dimasukkan ke dalam satu kelompok, sedangkan kata lain yang bentuk dan perilakunya sama atau mirip dengan sesamanya, tetapi berbeda dengan kelompok yang pertama, dimasukkan ke dalam kelompok yang lain. Dengan kata lain, kata dapat dibedakan berdasarkan kategori sintaktisnya. Kategori sintaktis sering pula disebut kategori atau kelas kata.
Dalam bahasa Indonesia menurut Alwi (2003:36) ada empat kategori sintaktis utama: (1) verba atau kata kerja, (2) nomina atau kata benda, (3) adjektiva atau kata sifat, (4) adverbia atau kata keterangan. Di samping itu, ada satu kelompok lain yang dinamakan kata tugas yang terdiri atas beberapa subkelompok yang lebih kecil, misalnya preposisi atau kata depan, konjungtor atau kata sambung, dan partikel.
Nomina, verba dan adjektiva sering dikembangkan dengan tambahan pembatas tertentu. Nomina, misalnya, dapat dikembangkan dengan nomina lain, dengan adjektiva, atau dengan kategori lain (gedung à gedung sekolah, gedung basus, gedung yang bogus itu). Verba dapat diperluas, antara lain, dengan adverbia seperti pelan-pelan (makan à makan pelan-pelan). dan adjektiva dapat diperluas dengan adverbia seperti sangat (manis à sangat manis). Pada tataran sintaktis, nomina dan perkembangannya disebut frasa nominal. Hal yang sama berlaku pada verba yang menjadi frasa verbal dan pada adjektiva pada frasa adjektival. Preposisi yang diikuti kata atau frasa lain menghasilkan frasa preposisional.
b.      Peran Semantis
Suatu kata dalam konteks kalimat memiliki peran semantis tertentu. Perhatikan contoh-contoh berikut:
(1)     Farida menunggui adiknya.
(2)     Pencuri itu lari.
(3)     Penjahat itu mati.
(4)     Johan melihat kecelakaan.
Dari segi peran semantis, Farida pada (1) adalah pelaku, yakni orang yang melakukan perbuatan menunggui. Adiknya pada kalimat ini adalah sasaran, yakni yang terkena perbuatan yang dilakukan oleh pelaku. Pencuri pada (2) adalah juga peiaku - dia melakukan perbuatan lari. Akan tetapi, penjahat pada (3) bukanlali pelaku karena mati bukanlah perbuatan yang dia lakukan, melainkan suatu peristiwa yang terjadi padanya. Oleh karena itu, meskipun wujud sintaktisnya minp dengan (2), penjahat itu pada (3) adalah sasaran. Pada kalimat (4) Johan bukanlalh pelaku ataupun sasaran. Ada suatu peristiwa, yakni kecelakaan, dan peristiwa itu menjadi rangsang yang kemudian masuk ke benak dia. Jadi, Johan di sini mengalami peristiwa tersebut. Karena itu, peran semantis Johan adalah pengalam.
Oleh sebab itu, kegiatan belajar menulis memerlukan kesiapan khusus pula untuk menggunakan kalimat dengan baik sehingga dapat memusatkan ide dan gagasan yang akan disampaikan kepada pembacanya. Sebuah kalimat minimal haruslah memiliki subjek dan predikat sehingga memiliki kemampuan untuk menimbulkan gagasan yang dikemukakan kepada pembaca seperti yang terdapat dalam pikiran penulis.
Pilihan kata merupakan bagian penting dalam menyusun kalimat. Menurut Tarigan (1994:4-5) kegiatan menulis tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan menyusun kalimat. Seorang penulis haraslah mengetahui sejak semula maksud dan tujuan yang hendak dicapai sebelum menulis dengan menguasai keterampilan dalam memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata.
Pilihan kata juga merapakan salah satu ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah, yaitu menggunakan kata dan istilah yang baku. Kata dan istilah yang baku adalah kata-kata atau istilah-istilah yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku, yang meliputi proses pembentukannya dan ejaan atau penulisannya (Doyin, 2002: 1).
Proses pembakuan selalu mengacu pada ikatan waktu karena bahasa selalu berkembang. Sebagai alat komunikasi bahasa selalu mengikuti perkembangan teknologi dan budaya manusia yang menggunakannya. Ragam bahasa ilmiah dalam lingkup resmi atau ilmiah juga mengalami proses berkembang. Dalam perjalanannya bahasa Indonesia sudah mengalami beberapa kali pembakuan, terutama menyangkut masalah ejaan. Bahkan untuk ejaan yang disempumakan (EYD) saja nama ejaan terbaru dalam bahasa Indonesia juga telah mengalami beberapa kali penyempurnaan. Melihat kondisi ini, kata-kata atau istilah, atau sistem penulisan yang tergolong baku dalam buku ini memungkinkan dengan perjalanan mengalami perabahan atau penyempurnaan. Hal ini berarti proses pembakuan kata atau ejaan pun juga akan berjalan seiring dengan perjalanan
waktu.
Dalam bahasa Indonesia, pembakuan yang sudah dilakukan meliputi pembakuan kata-kata dasar, kata berimbuhan dan kata serapan, idiom, dan penulisan kata. Selain itu, saat ini juga sudah ada kata atau istilah baru sebagai hasil pengidonesiaan kata atau istilah-istilah asing yang banyak digunakan oleh pemakai bahasa Indonesia.
Bahasa Indonesia sudah mempunyai beberapa alat yang sekaligus menjadi sumber untuk menentukan apakah sebuah kata itu baku atau tidak. Oleh karena itu pencarian kata-kata baku sebenamya dapat dimulai dari alat-alat tersebut. Menurut Doyin (2002:2-3) beberapa alat atau sumber beserta prinsip yang dapat digunakan untuk menentukan pilihan kata apakah sebuah kata, istilah, idiom, atau sistem penulisan itu baku atau tidak diuraikan berikut ini.
Untuk mencari pilihan kata baku dapat dilakukan dengan melihat daftar kata pada Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pada kamus tersebut sudah ada penjelasan apakah sebuah kata itu berasal dari bahasa daerah (atau asing) tertentu, apakali sebuah kata itu maknanya harus merujuk pada kata lain, atau kata itu berdiri sendiri sebagai kata yang telah baku. Di antara ketiga keterangan itu, kata-kata yang tergolong kata baku adalah kata-kata yang memiliki makna tersendiri tanpa harus merujuk pada makna kata lain atau kata yang tidak merupakan kata daerah (Doyin, 2002: 2).
Melalui prinsip tersebut akan dengan mudah menentukan mana kata yang baku dan mana kata yang tidak baku. Sebagai contoh, dalam kamus tertulis kata zaman dan jaman, ihtiar dan ikhitiar, atau tembakau dan bako. Untuk menentukan mana kata yang baku di antara kata yang berpasangan tersebut kita dapat melihatnya di kamus. Di kamus kata-kata tersebut tertulis: jaman n zaman, ihtiar à ikhtiar, dan bako à tembakau. Dalam penulisan yang demikian kita dapat mengetahui bahwa kata-kata yang baku adalah kata-kata yang diacu maknanya, yaitu kata zaman (bukan jaman), ikhtiar (bukan ihtiar), dan tembakau (bukan bako). Tentu saja kamus tidak menjelaskan mengapa kata zaman itu baku, sedangkan jaman tidak, ikhtiar itu baku, sedangkan ihtiar itu tidak, serta tembakau itu baku, sedangkan bako itu tidak. Jawaban di atas pertanyaan-pertanyaan tersebut ada pada buku-buku lain (Doyin, 2002: 2).
Selain dengan cara tersebut juga dapat diketahui sebuah kata itu baku atau tidak dengan cara lain. Misalnya antara aktual dan aktuil, izin dan ijin, atau kuitansi dan kwitansi. Jika kata-kata tersebut dicari dalam kamus, dan yang ditemukan hanya kata aktual, izin, dan kuitansi. Hal itu berarti kamus hanya mengakui adanya kata-kata aktual, izin dan kuitansi; yang berarti pula bahwa kata aktual, izin dan kuitansi tersebut ada dalam kamus adalah kata tidak baku (Doyin, 2002: 3). Di dalam EYD dapat digunakan untuk menentukan cara penulisan pilihan kata yang baku, baik pada kata berimbuhan, kata ulang, maupun kata
majemuk. Dalam EYD sudah diatur bagaimana menuliskan awalan atau akhiran, menggunakan tanda baca, menuliskan bilangan, memenggal kata, menggunakan huruf kapital, dan sebagainya. Sebagai contoh, untuk menentukan mana yang baku antara pascapanen daapascapanen, sinarX dan sinar-X, keluar dan ke luar, atau menggarisbawahi dan menggaris bawahi, EYD mempunyai jawabannya (Doyin, 2002: 3).
Selain dilampiri Ejaan Yang Disempumakan (BYD), Kamus Besar Bahasa Indonesia juga dilampiri Pedoman Umum Pembentukan Istilah. Pedoman ini mengatur cara menyesuaikan istilah-istilah asing ke dalam ejaan bahasa Indonesia. Ketentuan ini juga dapat digunakan imtuk menentukan mana kata yang baku dan mana yang tidak, dalam hal ini untuk jenis kata serapan. Sebagai contoh, jika menghadapi kata karisma dan kharisma, cek dan chek, sistem dan sistim, atau persentase dan prosentase; maka dengan mudah ditemukan dalam pedoman tersebut bahwa kata-kata yang baku adalah karisma (bukan kharisma), cek (bukan chek), sistem (bukan sistim), dan persentase (bukan prosentase) (Doyin, 2002: 3).
Adakalanya untuk mencari pilihan kata-kata baku dengan mudah dapat ditemukan pada buku-buku tertentu yang memiliki lampiran kata baku dalam bahasa Indonesia. Ada kalanya juga mudah menemukan dalam selebaran-selebaran yang dikeluarkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, biasanya selebaran dalam peringatan bulan bahasa, yaitu setiap bulan Oktober.
Melalui buku dan selebaran dapat juga memperoleh idiom-idiom baku dalam bahasa Indonesia. Idiom adalah pasangan kata yang sudah menyatu tidak dapat. digantikan yang maknanya tidak sama dengan makna kata yang menjadi bagiannya itu. Pemilihan kata sebagai pasangan kata tertentu dalam idiom tidak dapat dijelaskan alasannya. Sebagai contoh, misalnya, gabungan kata antara adalah dan, bukan dengan seperti banyak digunakan orang, seperti terlihat dalam kalimat "Kota Salatiga terletak di antara kota Semarang dengan Surakarta". Mengapa yang baku "antara ... dan ..." bukan "antara .. dengan '" tidak dapat dijelaskan alasannya. Itulah sifat idiom. Idiom semacam ini dapat kita jumpai dalam buku-buku dan selebaran (Doyin, 2002:4).
Menurut Martutik (1998:20) kegiatan belajar menulis memerlukan kesiapan khusus. Siswa dikatakan siap belajar menulis jika mampu mengingat urutan huruf dan tahu perbedaan; dapat memusatkan ide dan gagasan, serta kembali ke baris berikutnya; mempunyai bahasa tulis yang benar yang berisi kosakata lain pandangan dan percakapan, serta susunan kalimat yang normal; dan mudah menangkap pengertian-pengertian yang diperkenalkan.
Pilihan kata atau kosakata yang digunakan dalam kegiatan menulis menjadi salah satu aspek penting dalam kegiatan menulis. Menurut Soejono (1983:134) keterampilan menulis dapat diukur dari aspek-aspek sebagai berikut:
a.    Perbendaharaan kata, yaitu keseluruhan jumlah kata, ungkapan, idiom, peribahasa, dan istilah yang dikuasai oleh siswa. Banyak sedikitnya jumlah perbendaharaan kata seseorang tergantung pada tinggi rendahnya tingkat
pendidikan yang dimiliki.
b.   Kemahiran mengatur pikiran. Kemahiran mengatur pikiran sangat terkait dengan urutan kronologis dalam menyusun kata secara tepat dan jelas.
c.    Kehendak dan keberanian, yaitu keseluruhan gagasan pokok yang mampu diungkapkan secara tepat dengan ide-ide yang bam dan cemerlang.
d.   Ejaan dan tanda baca. Penggunaan ejaan dan tanda baca yang tepat dalam bahasa tulis akan sangat menentukan kejelasan makna yang tertuang dalaiB bahasa tulis.
Menurut Sugihastuti (2007:81) penentuan pilihan kata termasuk sebagai kemampuan penguasaan kosa kata dijabarkan sebagai kemahiran menyusun kalimat efektif dan ketepatan untuk menuliskannya ke dalam bentuk paragraph yang baik. Menurut Parera (1993:119) penguasaan kosa kata dijabarkan sebagai berikut:
1.      Penguasaan  kosakata  berarti  mengetahui   derajat  kemungkinan   untuk menemukan kata-kata dalam bentuk tulis satu ujaran; dan juga menguasai kosakata berarti sangat boleh jadi mengetahui juga kata-kata yang lain yang berhubungan dengannya.
2.      Penguasaan kosakata berarti mengetahui pembatasan-pembatasan penggunaan kosakata tersebut sesuai dengan konteks dan situasi pemakainya.
3.      Penguasan kosakata berarti mengetahui distribusi sintaksis dari kata tersebut.
4.      Penguasaan kosakata tersebut berarti mengetahui bentuk dasar dan devisiasi yang mungkia dari kosakata tersebut.
5.      Penguasaan kosakata berarti mengetahui jaring hubungan antara kata dalam bahasa tersebut.
6.      Penguasaan kosakata berarti mengetahui tentang makna kata-kata tersebut.
7.      Penguasaan kosakata berarti mengetahui banyak perbedan-perbedan dan variasi-variasi makna yang berhubungan dengan kosakata tersebut.
Kemampuan penguasaan kosa kata juga merupakan salah satu ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah, yaitu menggunakan kata dan istilah yang baku. Kata dan istilah yang baku adalah kata-kata atau istilah-istilah yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku, yang mehputi proses pembentukannya dan ejaan atau penulisannya (Doyin, 2002: 1).
Proses pembakuan selalu mengacu pada ikatan waktu karena bahasa selalu berkembang. Sebagai alat komunikasi bahasa selalu mengikuti perkembangan teknologi dan budaya manusia yang menggunakannya. Ragam bahasa ilmiah dalam lingkup resmi atau ilmiah juga mengalami proses berkembang. Dalam perjalanannya bahasa Indonesia sudah mengalami beberapa kali pembakuan, terutama menyangkut masalah ejaan. Bahkan untuk ejaan yang disempurnakan (EYD) saja nama ejaan terbaru dalam bahasa Indonesia juga telah mengalami beberapa kah penyempurnaan. Melihat kondisi ini, kata-kata atau istilali, atau sistem penulisan yang tergolong baku dalam buku ini memungkinkan dengan perjalanan mengalami perubahan atau penyempurnaan. Hal ini berarti proses pembakuan kata atau ejaan pun juga akan berjalan seiring dengan perjalanan waktu. Dalam bahasa Indonesia, pembakuan yang sudah dilakukan meliputi pembakuan kata-kata dasar, kata berimbuhan dan kata serapan, idiom, dan penulisan kata. Selain itu, saat ini juga sudah ada kata atau istilah baru sebagai hasil pengidonesiaan kata atau istilah-istilah asing yang banyak digunakan oleh pemakai bahasa Indonesia (Doyin, 2002:2-3).
Penguasaan kosa kata juga terkait dengan kemampuan memilih kata. Pilihan kata juga merupakan salah satu ciri bahasa Indonesia ragam ilmiah, yaitu menggunakan kata dan istilah yang baku. Kata dan istilah yang baku adalah kata-kata atau istilah-istilah yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang berlaku, yang meliputi proses pembentukannya dan ejaan atau penulisannya (Doyin, 2002:1).
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa pilihan kata menentukan dalam penyusunan kahmat. Dengan keterampilan dalam menentukan pilihan kata maka pembelajaran menulis terkait dengan pengelolaan pengetahuan yang dimiliki seseorang, baik dari hasil pengalaman ataupun membaca untuk dapat diungkapkan kembali dengan bahasa tuhs dengan baik.

B.     Pembelajaran Menulis di SMP
1.      Tujuan Pembelajaran Menulis
Pembelajaran bahasa Indonesia menurut Permen 22 tahun 2006 meliputi empat aspek yang hams dikuasai oleh siswa, yaitu aspek mendengar, aspek berbicara, aspek membaca, dan aspek menulis. Jika dilihat dari tujuannya pembelajaran bahasa Indonesia, meliputi:
a.    Siswa harus dapat menghargai bahasa Indonesia dan bangga memiliki sebagai bahasa persatuan atau bahasa Indonesia dan bahasa Negara.
b.   Siswa dapat memahami bahasa Indonesia itu baik dari segi bentuk, makna, dan fungsi serta dapat meggunakan secara tepat untuk bermacam tujuan, keperluan dan keadaan.
c.    Siswa harus memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual dan memiliki kematangan emosional dan sosial, serta khusus untuk materi.
d.   Siswa harus mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
Tujuan pengajaran bahasa Indonesia yang bersifat umum dijabarkan dalam komponen tata bahasa, pemahaman, dan penggunaan. Dari komponen tata bahasa, pemahaman, dan penggunaan dijabarkan menjadi tujuan kelas yaitu tujuan kelas satu, tujuan kelas dua, dan tujuan kelas tiga. Untuk mencapai tujuan setiap kelas itu dijabarkan menjadi sejumlah kompetensi dasar pembelajaran. Sasaran pengajaran bahasa Indonesia di terletak pada tujuan kelas. Sasaran ini dicapai melalui kegiatan belajar yang sudah dirinci persemester setiap tahunnya.
Tujuan pembelajaran bahasa Indonesia kelas US, antara lain sebagai berikut:
a.       Siswa mampu mengungkapkan peristiwa, pengalaman, gagasan dan pendapat tentang berbagai hal dalam berbagai bentuk dengan memperhatikan penggunaan tanda baca, pilihan kata keefektifan kalimat dan kepaduan paragraf.
b.      Siswa mampu menulis kreatif, menyunting karangan sendiri atau karangan orang lain dengan memperhatikan penggunaan ejaan, tanda baca, pilihan kata, struktur kalimat, kepaduan isi karangan. siswa mampu mengungkap pengalaman, -gagasan, pesan, pendapat, dan pemyataan secara sistematis, logis, dan kreatif sesuai dengan konteks dan situasi (KTSP, 2006:18).
Menurut Parera (1998:12) menyebutkan bahwa tujuan pembelajaran bahasa selalu berkaitan dengan kegiatan mendengarkan, berbicara, membaca,  atau menulis.   Keempat   keterampilan   berbahasa   tersebut   dapat   menjadi   focus pembelajaran. Keempat keterampilan tersebut dilaksanakan secara terpadu.
Dalam pembelajaran menulis pada jenjang sekolah dasar pembelajaran terfokus pada tujuan kemampuan menyimak bacaan dengan menuntut menulis yang lebih tinggi. Untuk mengukur tingkat pemahaman yang lebih tinggi, diperlukan kegiatan penguasaan kosa kata yang banyak untuk dapat menulis dengan baik.
Tujuan pembelajaran menulis tersebut dapat tercapai, jika siswa telah mengenal dan menguasai sistem tulisan, mengenal dan menggunakan kata-kata beserta artinya, memahami informasi yang dinyatakan secara eksplisit dalam bacaan, memahami implikasi yang tidak dinyatakan secara eksplisit dalam teks bacaan, memahami hubungan-hubungan dalam berbagai macam kalimat, memahami hubungan antara bagian-bagian teks bacaan melalui pemarkah kohesif (baik secara gramatikal dan leksikal), memahami ide pokok informasi-informasi yang penting, membedakan ide pokok dengan ide-ide penjelas, dan membuat penilaian terhadap isi bacaan (Keraf 1996:47).
Sementara itu Parera (1998:27) menyatakan beberapa prinsip dalam menulis yang perlu diperhatikan.
a.       Menulis bukanlah hanya menuangkan ide atau gagasan.
b.      Menulis dan menguasai bahasa terjadi serempak.
c.       Menulisdan berpikir terjadi serempak.
d.      Menulis menghubungkan lambang tulis dengan ide dan rujukan yang ada di belakang lambang huruf.
e.       Menulis berarti memahami. Ini berarti pembelajaran membaca bermuara pada pemahaman.
Dengan demikian, tujuan pembelajaran menulis pada jenjang siswa SMP sudah mengarah ke pengembangan gagasan dan ide yang mengarah pada pemahaman yang telah dibaca atau dialami siswa.


2.      Bahan Pembelajaran Menulis
Hakikat menulis menurut Permen 22 tahun 2006 sering dimaknai sebagai suatu kegiatan yang untuk mengungkapkan hasil pikir kepada orang lain dengan sarana bahasa tulis. Dengan demikian, bahan untuk pembelajaran menulis dapat berupa pengalaman, perasaan, pendapat, pengetahuan, keinginan, ajakan, himbauan, penolakan, ataupun gejolak batin. Hasil tulisan ini dapat berujud karya faktual dan fiksi sebagai prosa, cerpen ataupun puisi.
Keraf (1996:48) menyebutkan bahwa proses seseorang dalam menulis meliputi beberapa tingkatan, yaitu pemahaman literal akan ide dan gagasan, interpretatif, kritis, dan kreatif.
Pemahaman secara literal, yaitu memahami isi bacaan melalui pemahaman arti kata, kalimat, serta paragraf dalam sumber bacaan. Pemahaman literal menuntut kemampuan ingatan, yaitu ingatan mengenai apa yang tertulis dalam teks bacaan. Untuk mengesankan pemahaman siswa dapat diajukan pertanyaan ingatan, misalnya fakta-fakta, peristiwa dan urutan kejadiannya, mengecek makna yang sesuai, dan tentang ide pokok paragraf. Dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu pemahaman literal dapat dicapai.
Pemahaman secara interpretatif adalah pemahaman isi bacaan yang tidak secara langsung dinyatakan dalam tulisan. Pemahaman ini menuntut penulis mampu menafsirkan fakta dan informasi untuk digunakan kembali dalam bentuk tulisan. Untuk mengetahui pemahaman interpretatif dapat digunakan pertanyaan-pertanyaan yang merangsang berpikir dalam. Pertaayaan-pertanyaan tersebut, antara lain membuat simpulan, mencari hubungan sebab akibat, membuat perbandingan, dan menemukan hubungan antarproposisi, serta membuat generalisasi.
Pemahaman secara kritis, yaitu pemahaman isi bacaan yang dilakukan penulis dengan berpikir secara kritis terhadap basil yang telah ditulisnya. Jika memungkinkan penulis dapat mengevaluasi kembali dengan apa yang telah ditulisnya. Untuk mengetahui pemahaman kritis dapat diajukan pertanyaan-pertanyaan tentang perbandingan isi dan maksud dalam menyampaikan ide-idenya.
Pemahaman secara kreatif, yaitu pemahaman terhadap hasil yang ditulis melalui berpikir secara interpretatif dan kritis untuk memperoleh pandangan-pandangan baru, gagasan-gagasan yang baru dan pemikiran-pemikiran yang orisinal. Dalam menulis kreatif penulis akan berimajinasi, merenungkan kemungkinan baru dengan landasan pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki serta informasi yang didapat dari bacaan. Tingkatan menulis kreatif merupakan tingkatan pemahaman paling tinggi dalam membaca.
Dengan demikian, bahan dalam menulis dapat berujud karya faktual dan fiksi sebagai prosa, cerpen ataupun puisi. Guru sebagai mediator pembelajaran hendaknya mampu membimbing anak didiknya dalam tingkatan menulis yang kreatif, sehingga siswa akan lebih tertantang dan memaksimalkan ide dan gagasan.

C.    Kemampuan Menulis Siswa SMP
1.      Pengertian Menulis
Menurut Suhadi (1996:16) istilah menulis sering disamakan dengan kegiatan mengarang yaitu sebagai aktivitas manusiawi yang terarah dan sadar, memiliki swakarya dan mekanis yang teratur dalam bentuk tulisan. Pengertian swakarya dan mekanis tersebut adalah kemampuan dalam: (1) memilih materi atau topik karangan, (2) menentukan tema karangan, (3) menentukan tujuan dan bentuk karangan, (4) menetapkan pendekatan tema, (5) membuat judul yang menarik dan menantang, (6) membuat kerangka, (7) memulai menulis, (8) membangun alenia dengan rasa berkesinambungan, dan (9) menyelesaikan karangan dengan tepat.
Pembelajaran menulis merupakan kegiatan pembelajaran keterampilan penggunaan bahasa Indonesia dalam bentuk tulis. Keterampilan menulis adalah hasil dari keterampilan mendengar, berbicara, dan membaca. Menurut Depdikbud (1994:18) ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu sebagai berikut:
a.   Menulis tidak dapat dipisahkan dari membaca. Pada jenjang pendidikan dasar, pembelajaran menulis dan membaca teijadi serempak.
b.   Pembelajaran menulis adalah pembelajaran disiplin berpikir dan disiplin berbahasa.
c.   Pembelajaran menulis adalah pembelajaran tata tulis atau ejaan dan tanda bahasa Indonesia.
d.   Pembelajaran menulis berlangsung berjenjang, bermula dari menyalin sampai dengan menulis ilmiah
Berdasarkan prinsip pembelajaran   menulis   tersebut terdapat altematif pembelajaran bahasa Indonesia; antara lain menyalin, menyadur, membuat ikhtisar, menulis laporan, menyusun angket dan wawancara, menulis notulen, menulis hasil seminar, menulis surat, menulis berita, dan lain-lain.
Menurut Purwo (1997:5) menulis adalah kegiatan yang aktif. Dengan demikian siswa harus dapat menulis secara aktif. Untuk itu siswa perlu dilatih mengkomunikasikan dua hal, yaitu apa yang sudah mereka ketahui (apa yang ada di pikiran mereka) dengan isi atau cerita yang sedang mereka telusuri melalui kegiatan menulis. Kegiatan menulis dapat dimulai dengan pertanyaan bimbingan, yakni pertanyaan awal untuk mengarahkan pikiran dan pandangan siswa. Pengalaman yang berkaitan dengan isi yang akan ditulis dengan membangkitkan pengalamannya bacaannya.
Berkaitan dengan keterampilan menulis Wiryodijoyo (1989:20) menekankan pentingnya kesiapan siswa dalam menulis. Kesiapan siswa dalam menulis merupakan faktor yang penting. Siswa dikatakan siap belajar menulis bila ingat urutan huruf dan tahu perbedaan; dapat memusatkan ide dan gagasan, serta kembali ke baris berikutnya; mempunyai bahasa tulis yang benar yang berisi kosa lain pandangan dan percakapan, serta susunan kalimat yang normal; dan mudah menangkap pengertian-pengertian yang diperkenalkan. Apabila siswa telah siap menulis kemungkinan pembelajaran akan berhasil lebih baik.
Salah satu penentu keberhasilan pengajaran keterampilan menulis adalah teknik mengajar guru dalam menyajikan pelajaran lain atau topik pelajaran yang lain, teknik penyajian menulis bersifat implementasional dan situasional. Implementasional, artinya sejumlah kegiatan pelaksanaan pembelajaran keterampilan menulis yang telah direncanakan pada waktu menyusun model satuan pelajaran yang akan disajikan pada jam pelajaran tertentu. Walaupun demikian, realisasi pelaksanaannya bersifat situasional. Situasional artinya penggunaan teknik yang telah dirancang perlu disesuaikan dengan situasi kelas pada saat proses belajar mengajar.

2.      Kemampuan Menulis Prosa bagi Siswa SMP
Menulis dan mengarang sebenarya mempimyai sudut pandang yang berbeda. Kata mengarang dalam kurun waktu yang lama sangat melekat dengan tulisan fiksi ataupun non fiksi. Fiksi adalah bentuk tulisan yang cenderung imajinatif yang melekat seperti dalam novel, cerita pendek, puisi ataupun roman, sedangkan non fiksi lebih mengarah pada bentuk tulisan yang mengandalkan data pendukung berapa angka, teori atau hasil penelitian (Nurudin, 2007:2).
Makna mengarang dalam kurun waktu yang lama mengalami pemburukan makna (peyoratif). Mengarang diartikan sebagai kegiatan berpikir yang tanpa ada dasar, asal bunyi atau asal tulis. Sementara menulis maknanya lebih netral sebagai kegiatan menulis artikel atau kaiya ilmiah, walaupun makna sesungguhnya mengarang juga merupakan kegiatan menulis. Jadi makana menulis cakupannya lebih luas, sementara mengarang lebih sempit. Mengarang juga mempunyai makna konotasi buruk, sementara menulis bermakna lebih netral (Nurudin, 2007:3).
Menulis adalah kegiatan yang dilakukan seseorang untuk menghasilkan tulisan dalam rangka mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui bahasa tulis agar mudah dipahami. Tulisan itu sendiri diartikan sebagai sesuatu yang dihasilkan dari proses kegiatan kreatif penulisnya (Nurudin, 2007:4).
Menulis adalah suatu kegiatan yang produktif dan ekspresif untuk mengungkapkan ide, pikiran, gagasan dan pengetahuan. Dalam kegiatan menulis ini, maka penulis hamslah terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata. Disebut sebagai kegiatan produktif karena kegiatan menulis menghasilkan tulisan, dan disebut sebagai kegiatan yang ekspresif karena kegiatan menulis adalah kegiatan yang mengungkapkan ide, gagasan, pikiran, dan pengetahuan penulis kepada pembaca (Tarigan, 1994:3-4).
Keterampilan menulis merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan, tidak hanya penting dalam kehidupan pendidikan, tetapi juga sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Keterampilan menulis itu sangat penting karena merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang harus dimiliki oleh siswa. Dengan menulis, siswa dapat mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan atau pendapat, pemikiran, dan perasaan yang dimiliki. Selain itu, dapat mengembangkan daya pikir dan kreativitas siswa dalam menulis. Keterampilan menulis merupakan suatu ciri dari orang yang terpelajar atau bangsa yang terpelajar (Tarigan, 1994:4). Menurut Morsey (dalam Tarigan, 1994:4) keterampilan menulis dipergunakan oleh orang terpelajar untuk mencatat atau merekam, meyakinkan, melaporkan atau memberitahukan dan mempengaruhi, hanya dapat dicapai dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun pikirannnya dan mengutarakannya dengan jelas, kejelasan ini tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan sruktur kalimat.
Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut, kalau mereka memahami bahasa dan gambaran grafik (Tarigan, 1994:21).
Menurut Sugihastuti (2007:75) disebutkan bahwa kemampuan menulis disamakan dengan kemampuan berbahasa untuk memilih kata secara tepat sehingga mampu memindahkan pikiran dan perasaan ke dalam lambang, bahasa. Oleh karena itu menurutnya kata menjadi modal utama ketika seseorang akan memulai menulis.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa menulis adalah kemampuan seseorang dalam melukiskan lambang grafis yang dimengerti oleh penulis bahasa itu sendiri maupun orang lain yang mempunyai kesamaan pengertian terhadap simbol-simbol bahasa tersebut. Dalam menulis juga harus diperlukan adanya suatu bentuk ekspresi gagasan yang berkesinambungan dan mempunyai urutan logis dengan menggunakan kosa kata dan tata bahasa tertentu atau kaidah bahasa yang digunakan, sehingga dapat menggambarkan atau dapat menyajikan informasi yang diekspresikan secara jelas. Itulah sebabnya untuk terampil menulis diperlukan latihan dan praktek yang terus menerus dan teratur.
Bentuk keuntungan yang didapat dan diperoleh dari kegiatan menulis. Menurut Akhadiah (1997:1-2) ada 8 kegunaan menulis yaitu:
1.      Penulis dapat mengenali kemampuan dan potensi dirinya. Dengan menulis, penulis dapat mengetahui sampai di mana pengetahuannya tentang suatu topik.
2.      Penulis dapat terlatih dalam mengembangkan berbagai gagasan. Dengan menulis, penulis terpaksa bernalar, menghubung-hubungkan, serta membanding-bandingkan fakta untuk mengembangkan berbagai gagasannya.
3.      Penulis dapat lebih banyak menyerap, mencari, serta menguasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis. Kegiatan menulis dapat memperluas wawasan penulisan secara teoretis mengenai fakta-fakta yang berhubungan.
4.     Penulis dapat terlatih dalam mengorganisasi gagasan secara sistematis serta mengungkapkannya secara tersurat.
5.     Penulis akan dapat meninjau serta menilai gagasamiya sendiri secara lebih objektif.
6.     Dengan menulis sesuatu di atas kertas, penulis akan lebih mudah memecahkan permasalahan, yaitu dengan menganalisisnya secara tersurat dalam konteks yang lebih konkret.
7.     Dengan menulis, penulis terdorong untuk terus belajar secara aktif.
8.     Dengan kegiatan menulis yang terencanakan membiasakan penulis bepikir serta berbahasa secara tertib dan teratur.
Dari beberapa bentuk keuntmigan yang didapat dan diperoleh dari kegiatan menulis di atas dapat disimpulkan bahwa keuntungan dari kegiatan menulis tersebut adalah bahwa penulis dapat lebih banyak menyerap dan menguasai informasi sehubungan dengan topik yang ditulis serta dapat mengetahui kemampuan dan potensi dirinya,
Oleh karena itu pembelajaran menulis merupakan kegiatan pembelajaran keterampilan penggunaan bahasa Indonesia dalam bentuk tulis. Keterampilan menulis adalah hasil dari keterampilan mendengar, berbicara, dan membaca. Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu sebagai berikut:
1.    Menulis tidak dapat dipisahkan dari membaca.
2.    Pembelajaran menulis adalah pembelajaran disiplin berpikir dan disiplin berbahasa.
3.    Pembelajaran menulis adalah pembelajaran tata tulis atau ejaan dan tanda bahasa Indonesia.
4.    Pembelajaran menulis berlangsung berjenjang, bermula dari menyalin sampai dengan menulis ilmiah.
Berdasarkan prinsip pembelajaran menulis tersebut terdapat alternatif pembelajaran bahasa Indonesia; antara lain menyalin, menyadur, membuat ikhtisar, menulis laporan, menyusun angket dan wawancara, menulis notulen, menulis hasil seminar, menulis surat, menulis berita, dan lain-lain.
Menurut Soenardji (1998:106) aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam menulis dalam pembelajaran bahasa Indonesia mehputi: (a) aspek tata bahasa, (b) aspek membaca, (c) aspek kematangan mental, (d) aspek jenis kelamin, dan (e) aspek usia. Alur pemikiran tersebut dijabarkan sebagai berikut.
1.     Aspek tata bahasa. Aspek tata bahasa sangat terkait dengan pengetahuan tentang jenis kata dan jenis kalimat.
2.     Aspek membaca. Aspek ini mempunyai nilai sebagai sumber ide bagi kegiatan menulis.
3.     Aspek kematangan mental. Aspek ini sangat terkait dengan pengetahuan dan penalaran siswa dan menguasai struktur bahasa.
4.     Aspek jenis kelamin. Jenis kelamin untuk siswa putri akan cenderung mempunyai keterampilan yang lebfli baik daripada siswa putra dalam penguasaan semua aspek kebahasaan.
5.     Aspek usia. Aspek ini akan turut menentukan panjang pendeknya kalimat sesuai dengan meningkatnya usia.
Disebutkan juga oleh Soejono (1983:134) mengenai tolok ukur dalam mengarang atau menulis sangat terkait dengan aspek-aspek sebagai berikut.
1.     Perbendaharaan kata, yaitu keseliiruhan jumlah kata, ungkapan, idiom, peribahasa, dan istilah yang dikuasai oleh siswa. Banyak sedikitnya jumlah perbendaharaan kata seseorang tergantung pada tinggi rendahnya tingkat pendidikan yang dimiliki.
2.     Kemahiran mengatur pikiran. Kemahiran mengatur pikiran sangat terkait dengan urutan kronologis dalam menyusun kata secara tepat dan jelas.
3.     Kehendak dan keberanian, yaitu keseluruhan gagasan pokok yang mampu diungkapkan secara tepat dengan ide-ide yang baru dan cemerlang.
4.     Ejaan dan tanda baca. Penggunaan ejaan dan tanda baca yang tepat dalam bahasa tulis akan sangat menentukan kejelasan makna yang tertuang dalam bahasa tulis.
Berdasarkan dua pendapat dari ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis prosa seseorang sangat terkait dengan pengelolaan pengetahuan yang dimiliki seseorang, baik dari hasil pengalaman ataupun membaca untuk dapat diungkapkan kembali dengan bahasa tulis dengan mengaplikasikan penguasaan kosa kata yang dimilikinya secara tepat.

D.    Adaptasi Teori
Kemampuan penguasaan kosakata berarti mengetahui derajat kemungkinan untuk menemukan kata-kata dalam bentuk tulis satu ujaran; dan juga menguasai kosakata berarti sangat boleh jadi mengetahui juga kata-kata yang lain yang berhubungan dengannya, Kemampuan penguasaan kosa kata juga berarti mengetahui pembatasan-pembatasan penggunaan kosa kata tersebut sesuai dengan konteks dan situasi pemakainya, termasuk di dalamnya mengetahui distribusi sintaksis dari kata tersebut, serta megetahui perbedan-perbedan dan variasi-variasi makna yang berhubungan dengan kosakata tersebut.
Keterampilan menulis merupakan keterampilan untuk mengungkapkan atau mengekspresikan gagasan atau pendapat, pemikiran, dan perasaan yang dimiliki seseorang (siswa) dalam bentuk tetulis. Keterampilan menulis terkait dengan kemampuan menyusun serta mengembangkan daya pikir dan kreativitas pikiran dan mengutarakannya kembali dalam bentuk tertulis dengan jelas. Kejelasan ini tergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan sruktur kalimat, termasuk di dalamnya adalah penguasaan kosa kata yang dimiliki oleh siswa. Seorang penulis sejak awal juga harus mengetahi maksud dan tujuan yang hendak dicapai dan hams mampu memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosa kata. Oleh karena itu, kemampuan menulis disamakan dengan kemampuan berbahasa untuk menguasai kosa kata secara tepat sehingga mampu memindahkan pikiran dan perasaan ke dalam lambang bahasa yang mudah dimengerti oleh orang lain. Dengan demikian dapat diasumsikan jika penguasaan kosa kata yang dimiliki oleh siswa baik maka kemampuan menulis siswa pun akan meningkat lebih baik pula.

E.     Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif yang signifikan Kemampuan Penguasaan Kosa Kata dengan Kemampuan Menulis Prosa pada Siswa Kelas VII SMP 1 Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2010/2011.




BAB III
METODE PENELITIAN

A.      Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggimakan pendekatan kuantitatif expost facto. Menurut Sugiyono (2001:3) penelitian expost facto adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi. Atau dengan kata lain penelitian expost facto, adalah penelitian yang dilakukan sesudah fakta yang terjadi karena perkembangan kejadian secara alami. Penelitian ini difokuskan pada studi kasus, dengan tidak untuk digeneralisasikan di luar populasi. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu mengungkap data yang sudah ada dari keselurahan variabel yang diteliti.

B.       Variabel Penelitian
Variabel data penelitian ini terkait dengan variabel bebas dan terikat.
1.  Variabel Bebas
Variabel   bebas dalam penelitian ini adalah kemampuan penguasaan kosa kata siswa kelas VII SMP 1 Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2010/2011.2.
2.    Variabel Terikat
Variabel terikatnya adalah kemampuan menulis prosa siswa Kelas VII SMP 1 Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2010/2011.

C.      Populasi dan Sampel Penelitian
Uraian mengenai populasi dan sampel dalam penelitian ini akan dijabarkan dalam pembahasan di bawah ini.
1.      Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 1996) Populasi dalam penelitian ini berkaitan dengan keseluruhan individu (responden) yang karakteristiknya hampir sama. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa Kelas VII SMP 1 Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2010/2011.
2.      Sampel Penelitian
Sampel penelitian adalah sebagian dari populasi yang diambil sebagai sumber data dan dapat mewakili seluruh populasi. Kaitannya dengan teknik pengambilan sampel, Arikunto (1996:107) mengemukakan apabila subjek kurang dari 100, maka lebili baik diambil semua. Memperhatikan pemyataan di atas maka sampel penelitian ini adalah seluruh siswa Kelas VII SMP 1 Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2010/2011 sebanyak 22 siswa.

D.      Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik tes. Teknik tes digunakan untuk menentukan nilai kemampuan penguasaan kosa kata dan nilai kemampuan menulis prosa siswa Kelas VII SMP 1 Bumiayu Kecamatan Bumiayu Kabupaten Brebes Tahun Pelajaran 2010/2011.
Bentuk tes diwujudkan dalam tes objektif dan tes essay. Tes objektif digunakan untuk mengetahui kemampuan penguasaan kosakata siswa yang bersumber dari 4 wacana masing-masing diambil 5 item. Siswa memilih jawaban yang paling benar pada di lembar jawaban yang disediakan. Jawaban benar diberi skor 5 (total 5 X 20 = 100), salah tidak diberi skor.
Tes essay digunakan untuk mengetahui kemampuan menulis prosa siswa. Kriteria kemampuan menulis didasarkan pada aspek: (1) kesesuain judul dengan isi dengan skor maksimal 20 , (2) diksi (pemilihan kata) dengan skor maksimal 40, (3) Ejaan dan tanda baca dengan skor maksimal 20, dan (4) imaginasi dengan skor maksimal 20.

E.       Validitas dan Reliabilitas Instrumen
Suatu alat ukur haruslali memiliki syarat validitas dan reliabilitas jika hendak mengungkap data variabel secara tepat dan konstan.
1.      Validitas Instrumen
Validitas Instrumen dalam penelitian ini dianalisis menggunakan analisa butir soal yang dikorelasikan dengan skor totalnya. Analisis ini menggunakan rumus Product Moment Pearson (Arikunto, 1996:160).
2.      Reliabilitas Instrumen
Alat ukur yang reliabel, menghasilkan kestabilan dan ketepatan hasil terhadap subyek yang sama dalam waktu yang berlainan. Pengujian reliabilitas ini juga menggunakan rumus Alpha Alfa Crombach (Arikunto, 1996).

F.       Teknik Analisis Data
Data akan dianalisis menggunakan teknik korelasi dalam statistik parametrik. Teknik analisis ini menggunakan bantuan komputer program SPSS release 11. Pengujian hipotesis menggunakan teknik analisis product moment.


DAFTAR PUSTAKA

Abdi, Kusman. 1993. Pembelajaran Menulis dan Pengembangan Berpikir Majalah Diksi. Vol.8. Edisi Januari 2004. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta.

Arikunto,   Suharsimi.   1996. Prosedur Penelitian  Suatu Pendekatan Praktek. Bandung; Bumi Aksara.

Akhadiah, Sabarti, 1997. Menulis. Jakarta:Depdikbud.

Moeliono, Anton. M. 1995. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Doyin, Mukh. 2002. Kamus Kata Baku Bahasa Indonesia. Semarang: Nusa Budaya.

Nurudin. 2007. Dasar-Dasar Penulisan. Malang: UPT UMM.

Soenardji. 1998. Azas-Azas Menulis. Semarang; IKIP Semarang Press.

Soejono, Ag. 1983. Metodik Khusus Bahasa Indonesia. Bandung: Bina Karya

Sugihastuti. 2007. Bahasa Laporan Penelitian.Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sugiyono. 2001. Statistik untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Parera, Jos Daniel. 1993. Leksikon Istilah pembelajaran Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tarigan. 1994. Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.

-------- Permen 22 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar.




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar