Minggu, 12 Februari 2012

Sasaran Kegiatan Penyuntingan


2. Ruang Lingkup Penyuntingan atau Sasaran Kegiatan Penyuntingan adalah Produksi Informasi

 


RUANG LINGKUP PENYUNTINGAN MEDIA TERCETAK
Ruang lingkup penyuntingan yang sudah dikenal oleh masyarakat luas akhir- akhir ini yang semakin akrab dengan media tercetak adalah ruang lingkup penyuntingan bulletin berita (produk media tercetak dari sekretariat berbagai ormas, dan organisasi lain), surat kabar, majalah( dari popular sampai berbobot ilamiah), dan penerbitan buku- buku (Termasuk; Skripsi/Tesis/Desertasi).
I). Proses Produksi Informasi
Proses Produksi Informasi yang melibatkan kegiatan penyuntingan dapat dibedakan dalam dua proses besarnya:
(1). Proses produksi tahap awal atau tahap pertama merupakan proses pencaharian, penemuan dan penyusunan konsep- konsep sampai tertuang dalam bentuk naskah bersih. Inilah tahap pengemasan konsepsional, pengemasan informasi, yang menguras pikiran dan menimbulkan tegangan kejiwaan atau stress. Itulah tahap proses kreatif penulis yang seringkali didorong-dorong atau diarahkan oleh para penyunting/editor.
Dalam tahap ini editor memainkan peran sebagai intelektual, seorang profesional yang sudah memahami seluk- beluk dunia pengarang dan penulis untuk bidang apa saja. Atau bahkan menjelma menjadi seorang penulis yang tahu siapa nanti calon pembacanya.
(2). Proses produksi tahap kedua yaitu;  yang menjadi perhatian lingkungan grafika, yakni tahap pra- cetak, bagaimana naskah dirancang menjadi karya cetak seperti  surat kabar, majalah atau buku.
Penyuntingan dalam tahap itu berganti peran bukan lagi sebagai seorang penulis atau seorang intelektual, melainkan bergabung dalam tim teknis, tim operasional mewujudkan naskah menjadi karya cetak. Penyunting terlibat dalam proses manajerial bidang produksi  informasi media cetak. Penyunting juga berperan sampai proses distribusi-pemasaran media cetak, berurusan dengan para konsumen produk cetak yang sudah dirancang dari awal untuk memenuhi kebutuhan informasi para konsumennya ( baca: para pembaca media cetak).
II). Prinsip Kerja Produksi Informasi (Surat Kabar, Majalah, Buku)
Dalam praktik sehari-hari, penerbitan surat kabar, majalah, dan buku mengaplikasikan prinsip-prinsip kerja sesuai dengan skala prioritas perhatian, tingkat urgensi, dan resiko pekerjaan yang dihadapi.
# Prinsip kerja produksi informasi pada penerbitan surat kabar sangat menonjol dengan aspek kecepatan (high speed), karena setiap hari harus memproduksi serta menyebarkan media hariannya. Idealnya tiga prinsip kerja yaitu; aspek kecepatan, aspek ketepatan/ketelitian, dan aspek artistik sama-sama diperhatikan. Namun kenyataannya, aspek kecepatanlah yang sering didahulukan. Sering sekali kurang diperhatikan aspek ketelitian kebahasan maupun keakuratan fakta. Demikian pula aspek artistic (Layout/skema surat kabar sudah dipatok/baku, dan jarang diadakan perubahan-perubahan yang berarti ditinjau dari segi artistiknya).
# Sebaliknya penerbitan majalah lebih menonjolkan aspek ketepatan serta ketelitian fakta, karena batas waktu penyelesaian pekerjaan penulisan/kewartawanan dan penyuntingan berlangsung dalam beberapa hari. Kecepatan kurang menonjol dibandingkan dengan pekerjaan surat kabar. Namun yang lebih menarik pada majalah justru aspek artistiknya, yang menarik perhatian calon pembeli, khususnya majalah- majalah yang memperhatikan kehidupan dan dunia kewanitaan.
# Berbeda pula bentuk aplikasi tiga prinsip kerja itu (Cepat, tepat/teliti, artistik) dalam dunia penerbitan buku, yang menerapkan prinsip kecepatan kerja sebagai urutan paling rendah dalam skala prioritas perhatian (diperkirakan rata- rata tiap tahun penerbit di Indonesia memproduksi buku baru sebanyak duabelas judul baru, jumlah penerbit buku Indonesia sekitar 500 buah sehingga rata- rata 6000 judul baru terbit dalam satu tahun). Urutan di tengah adalah prinsip ketelitian dalam kerja. Aspek paling menonjol dalam kesibukan perbukuan justru pada sisi artistiknya, karena setiap judul membutuhkan design artistic berbeda- beda. Dengan demikian boleh dikatakan cover buku bersama perencanaan halaman per halaman buku merupakan sebuah karya artistic yang berasal dari lingkungan percetakan.
Untuk menjadi seorang editor yang serba bisa, seseorang harus mempersiapkan diri dan melatih diri dengan banyak pengetahuan dan keterampilan lainnya, antara lain penguasaan manajemen penerbitan pada umumnya dan manajemen editorial pada khususnya. Banyak kursus dan pelatihan sudah diselenggarakan untuk mendukung para editor menggapai banyak keterampilan yang dibutuhkan oleh pekerjaannya sebagai seorang editor profesional. Namun salah satu keterampilan terpenting tetap saja keterampilan kebahasaan Indonesia untuk lapangan penerbitan media tercetak di Indonesia. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar